Proyek oh Proyek

Posted: September 19, 2011 in Ergonomic, Notes
Tags: ,

Hari Senin, harinya bagian desain grafis mengunggah berita ke website. Namun, kala itu mereka tak bisa bekerja. Internet di kantor mati. Ternyata telepon yang merangkap faksimile juga mati. Bagian sekretariat pun melapor ke Telkom.

Hari Selasa, saya diundang coffee morning di kantor Telkom. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saya langsung “mengadukan” matinya jaringan telepon dan internet. Pengaduan saya langsung kepada Kepala Telkom dan Manajer Jaringan. Inilah enaknya jadi wartawan. Kesempatan tatap muka dengan pimpinan instansi bisa dilakukan kapan saja tanpa harus mengikuti alur birokrasi. Gayung bersambut, dalam acara tersebut, pihak Telkom sangat terbuka untuk menerima keluhan. Bahkan layanan untuk kantor redaksi akan diprioritaskan. Two thumbs up untuk Telkom.

Saya pun diberi penjelasan, memang ada gangguan di daerah Padangsambian. Penyebabnya kabel yang terputus akibat penggalian jalan. Jalan yang digali, kabel yang putus. Untungnya Telkom dengan sigap menarik kabel lain untuk mengganti jalur yang ada di kantor saya. Telepon dan internet pun bisa dipakai lagi.

Kembali ke soal galian, tiga minggu kemudian, saya lewat di jalan Mahendradata. Saya melihat seorang petugas tengah menyambung kabel yang putus. Perkiraan saya, kabel itu putus kena “garuk” eskavator yang tengah dipekerjakan untuk menggali jalan.

Di bagian lain, saya lihat kabel-kabel melintang di tepian jalan yang digali. Kalau salah “garuk”, saya yakin kabel yang putus akan makin banyak.

Kalau “garuk-menggaruk” dilakukan dibanyak tempat, peluang untuk terjadinya “putusan” sangat banyak.

Saya pun berandai-andai. Kalau saja dari awal, pihak-pihak yang berkepentingan dengan galian (Telkom, PLN, PDAM, DSDP, PU, dll) bersinergi, kerusakan tentu bisa diminimalkan. Semua berkumpul untuk membahas, apa yang akan mereka lakukan dengan kabel atau saluran atau pipa yang ada di bawah jalan. Sinergi ini juga menghemat pengeluaran negara. Tidak ada lagi bongkar-pasang jalan. Tetapi, bisa dimaklumi kalau tidak ada proyek bongkar, tidak ada pemasukan atau komisi untuk oknum-oknum pemangku kepentingan. Makin sering dibongkar, makin sering proyek, makin banyak komisi.

Saya jadi teringat juga dengan “petuah” pakar ergonomi Prof. Adnyana Manuaba. Ia miris melihat pakar dan ahli-ahli hanya berpikir ego sektoral. Masing-masing mengklaim, diri merekalah yang harus didahulukan. Padahal kalau semua direncanakan dengan total ergonomic approach, ia yakin, permasalahan bisa diselesaikan dengan tuntas. Tak lupa Prof. Adnyana mengatakan konsep ergonomi yang mengedepankan keselamatan, keamanan, efisien, dan kenyamanan menjadi pilar untuk semua bidang dalam melaksanakan perencanaan.

Nah, sekarang tergantung kepada para pemangku kepentingan. Mau tutup mata dan tutup telinga dengan keluhan masyarakat atau mau buka mata dan buka telinga. Karmapala dan karma wesana akan terus berjalan. Siapa menabur angin, dia menuai badai.

ngurah budi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s