Selesaikan Konflik Adat Lewat Mediasi

Posted: September 5, 2011 in Social
Tags: , , , ,

ANEKA kasus adat tidak selalu diselesaikan di pengadilan. Mediasi menjadi pola nonlitigasi dapat ditempuh untuk menyelesaikan sengketa sesuai prinsip kekeluargaan.
“Kekeluargaan kalau ditelaah kata dasarnya keluarga. Siapa yang ada dalam keluarga? Ada laki-laki, perempuan, tua, muda, bayi, lansia. Keluarga pasti memiliki perbedaan dalam kesatuan. Dalam penyelesaian sengketa, semua unsur yang ada dalam keluarga harus diberi penghargaan. Intinya, menghargai dan mengakui perbedaan,” papar ahli hukum adat Bali Prof. Dr. Wayan P. Windia, S.H., M.Hum.
Jika terjadi sengketa dan tidak ingin diselesaikan di pengadilan, kata Prof. Windia, pilihlah mediasi. Sebagai penengah, ada yang namanya mediator. “Tiga kunci utama menjadi mediator, mengerti masalah, dapat memberi alternatif solusi, dan tegas. Jika sengketa terkait adat, mediatornya tentu ahli hukum adat. Kalau sengketa terkait masalah ekonomi, mediatornya ahli ekonomi,” tegas dosen Fakultas Hukum Unud ini.


Dari pihak yang bersengketa, Windia mengatakan, proses penyelesaiannya mirip penyembuhan penyakit. Ada obat dan ada pantangan yang harus dipatuhi. Obatnya berupa solusi yang ditawarkan mediator, sedangkan pantangannya berbagai syarat ditawarkan agar solusi bisa maksimal.
“Ada keinginan dari kedua pihak atau lebih yang bersengketa untuk menyelesaikan sengketa melalui jalan damai atau secara kekeluargaan,” jelasnya.
Selain itu, taat terhadap permintaan mediator. Pihak yang bersengketa tidak boleh bermusuhan. Penawaran yang diajukan bukan harga mati. Tujuan akhirnya, menemukan kebaikan bersama dan bukan kebenaran.
“Kalau mau kebenaran, tempatnya di pengadilan.
Dalam hukum adat Bali, saya cenderung memakai istilah pada lasya sebagai mediasi atau cara menghasilkan win-win solutions,” jelas Prof. Windia.
Penyelesaian lewat mediasi relatif berbiaya murah, tetapi tidak mudah. Murah karena prosesnya dilakukan di luar pengadilan, tidak memerlukan jasa kuasa hukum. Tetapi, cara mediasi pun tidak mudah, karena perlu kesepakatan bersama.

Putu Dyatmikawati, S.H., M.Hum. menambahkan peran mediator sangat penting. “Kalau dalam menyelesaikan sengekta adat, peran majelis desa pakraman juga menjadi penting. Mereka harus tegas dalam memediasi sengketa. Kalau ada yang sampai menyentuh ranah hukum pidana, itu harus ditindaklanjuti. Jika terbukti bersalah dan harus dihukum, itu juga harus dihormati sebagai sebuah proses hukum yang bisa menjadi efek jera,” ujar Dekan Fakultas Hukum Universitas Dwijendra ini.
Jika prajuru dan MDP tidak tegas dan cenderung melakukan pembiaran dalam kasus-kasus yang menyentuh ranah pidana seperti pengerusakan dan penganiayaan, itu akan menjadi preseden buruk. Besar kemungkinan, hal serupa akan diulangi orang yang sama atau orang lain. Ini pula yang menjadi penyebab, tidak tuntasnya kasus-kasus adat di Bali.

Dyatmikawati juga berharap prajuru di banjar dan desa pakraman lebih meningkatkan pembinaan krama agar tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan kerugian lahir dan batin terhadap sesama krama. “Kalau ada krama yang mendapat sanksi adat termasuk kasepekang itu artinya, prajuru tidak mampu membina krama-nya,” tegas istri Drs. M.S. Chandra Jaya, M.Hum. ini.
Beberapa kali dirinya menjadi mediator kasus perceraian, perkawinan pada gelahang, dan pengangkatan anak. Melalui Lembaga Konsultasi Ayu Nulus, ia berhasil mendamaikan suami-istri yang hendak bercerai. Nasihat yang diberikan mengutamakan keutuhan rumah tangga dan masa depan anak.

Sementara dalam kasus pengangkatan anak, ada keluarga yang menolak sepasang suami-istri mengangkat anak. Setelah diberi pemahaman, akhirnya mereka setuju dan mendukung kerabat mereka yang hendak mengadopsi anak tersebut. —wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s