Saripati di Kaki Pemain Awet Tua

Posted: September 5, 2011 in Notes
Tags: , , , , ,

Menyaksikan pertandingan persahabatan antara Milan Glorie versus Indonesia All Star membuat saya berdecak kagum. Bukan karena Indonesia berhasil “mencuri” satu gol. Bukan juga karena Stadion Utama Gelora Bung Karno “memerah”. Tetapi, spirit.

Ya, spirit para pemain pilihan ini luar biasa. Usia mereka tidak muda lagi. Namun, permainan yang ditunjukkan bolehlah diadu dengan pemain muda. Usia tua bukan halangan bagi mantan dan pemain sepak bola untuk bermain di lapangan hijau. Mengutip kata komentator pertandingan itu, masih ada saripati di kaki-kaki pemain yang pernah membela AC Milan ini.

Pola permainan menyerang dengan mengandalkan Gianluigi Lentini di sayap kiri dan Jean Piere Papin di sayap kanan mampu mengobrak-abrik lini pertahanan Indonesia yang dikawal kwartet Jaya Hartono, Yeyen Tumena, Charis Yulianto, dan Aji Santoso. Kiper Hendro Kartiko pun dibuat berjibaku menghalau bola-bola yang menuju gawangnya.

Hendro memang sukses menghadang beberapa tembakan, tetapi ia harus kebobolan 4 kali. Tiga dilesakkan Serginho, satu lagi Dida.

Kenapa Dida yang notabene kiper bisa mencetak gol? Inilah uniknya pertandingan persahabatan yang bertajuk “Milan Glorie Asian Disaster Tour”. Karena pertandingan ini untuk amal, peraturan yang diterapkan tidak saklek. Kiper boleh main jadi striker. Pemain yang sudah keluar boleh masuk lagi (seperti main basket). Yang penting, penonton terhibur.

Ketika Ponaryo Astaman gagal mencetak gol dari titik putih, penonton mungkin kecewa. Untung ada Ricky Yakobi yang menciptakan satu gol apik berkat assist Kurniawan Dwi Yulianto. Skor akhir 5-1 untuk Milan Glorie setelah Serginho mencetak satu gol lagi untuk melengkapi quatrick-nya.

Usia boleh tua, tetapi permainan Franco Baresi dan kawan-kawan masih menawan. Salah satu rahasia permainan yang ditunjukkan pemain awet tua ini adalah konsistensi. Walau bertajuk pertandingan persahabatan, mereka tetap sersan (serius tapi santai). Tidak ngoyo mengejar bola tetapi efektif kalau sudah mengendalikan bola. Sederhana tetapi menghibur.

Kalau saja Indonesia khususnya PSSI  sering-sering mendatangkan klub atau negara yang maju sepak bolanya, saya yakin persepakbolaan Indonesia akan menerima imbas. Penonton akan berduyun-duyun datang ke stadion, pemain dan pelatih akan mendapat ilmu dari lawan yang levelnya di atas mereka. Stasiun televisi berlomba-lomba menyiarkan, sponsor pun setali tiga uang. Yang agak repot, pihak keamanan. Mereka harus melakukan pengaman ekstra. Tetapi, kalau semua berpikiran terbuka dan maju, pasti lebih banyak manfaat daripada mudaratnya. Majulah sepak bola Indonesia.

“PSSI aku datang, PSSI engkau menang. Indonesia aku datang. Indonesia engkau menang” (lagu yang dikutip dari novel Sebelas Patriot-nya Andrea Hirata)

Ngurah Budi, penggembira sepak bola

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s