Vaksinasi Kanker Serviks Berbasis Sekolah

Posted: August 19, 2011 in Health
Tags: , , , ,

Tahun 2010, penduduk Bali  berjumlah 3,9 juta jiwa dengan sekitar 553 ribu wanita usia subur yang berisiko terkena kanker serviks. Angka kejadian kanker serviks di Bali sekitar 43/100.000 (0,89%).  Bali merupakan salah satu daerah yang sebagian besar Puskesmasnya sudah dapat melakukan program pencegahan kanker serviks “See and Treat”.
Dalam waktu 2 tahun sejak 2008, 116,7 ribu perempuan Bali sudah menerima penyuluhan kanker serviks dan lebih dari 45.000 sudah melakukan deteksi dini dengan IVA.
Dari latar belakang tersebut, Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Denpasar melakukan dua aksi. Pertama, mereka sosialisasi tentang kesehatan reproduksi ke sekolah-sekolah yang ada di Denpasar. “Program edukasi kesehatan reproduksi kami laksanakan di 106 sekolah (49 SMP dan 57 SMA), dengan audiens lebih dari 1000 siswa saat masa orientasi sekolah,” ungkap Ketua POGI Denpasar dr. Made Suyasa Jaya, Sp.O.G. (K).
Kedua, mereka mengadakan vaksinasi kanker serviks di sekolah. Kedua kegiatan ini bertema “Pendekatan Menyeluruh untuk Eradikasi Kanker Serviks di Bali” untuk menuju cita-cita ‘Bali bebas kanker serviks 2020′.
“Kanker serviks satu-satunya kanker yang dapat dicegah. Caranya dengan vaksinasi. Vaksinasi terbaik dilakukan sebelum perempuan melakukan kontak seksual. Mulai umur 10 tahun, anak perempuan sudah bisa diberikan vaksin kanker serviks. Kalau sudah dewasa dan pernah kontak seksual perlu dilakukan pemeriksaan dulu melalui pap smear,” ujar dr. Suyasa Jaya yang akrab disapa dokter Kadek.
Kendala yang dihadapi adalah mahalnya biaya vaksin dan harus dilakukan tiga kali. Jika sekali vaksin biayanya minimal Rp 800 ribu, maka perlu dana Rp 2,4 juta. Tetapi, ini lebih murah jika dibandingkan dengan pengobatan kanker yang bisa menghabiskan ratusan juta rupiah.
Berkat sinergi yang dilakukan POGI Cabang Denpasar bersama GlaxoSmithKline (GSK), Dinas Kesehatan Denpasar, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Denpasar, serta Dewan Pendidikan Denpasar biaya untuk vaksin bisa ditekan. Bahkan POGI Cabang Denpasar sudah mengadakan kerja sama selama setahun untuk mendukung vaksinasi kanker serviks di sekolah. Siswi akan mendapat subsidi sehingga biaya bisa ditekan. Untuk tiga kali vaksin, hanya dikenakan biaya Rp 1 juta.


Sekolah yang pertama menyambut program subsidi ini adalah sekolah Tunas Daud. Program ini juga diklaim sebagai vaksinasi pertama yang berbasis sekolah. Ke depan, sekolah-sekolah lain diharapkan untuk proaktif untuk mendukung terwujudnya “Bali bebas kanker serviks 2020”.
Dalam kegiatan perdana ini sekolah Tunas Daud, yang melibatkan 20 dokter spesialis kandungan dan kebidanan ini, 66 orang mendapat vaksin. Mereka terdiri dari 61 siswi dan 5 orangtua siswi. Tim POGI hadir dengan 20 dokter spesialis kandungan dan kebidanan serta dokter residen. “Saya tahu tentang kanker serviks dari mama. Mama mempersilakan saya ikut untuk mencegah kanker serviks,” ungkap Samantha, siswi kelas 8 SMP Tunas Daud. Hal senada diungkapkan Tasya (11) dan Audrey (11), kelas kelas 6 SD Tunas Daud. Mereka mengaku tidak sakit saat disuntik dan berharap tidak terkena kanker serviks karena sudah divaksin.
Vonny A. Susanta, S.Pd.,  Development Coordinator Sekolah Tunas Daud mengatakan, senang dengan kerjasama dan kolaborasi ini. “Siswa kami menjadi paham mengenai kesehatan reproduksi mereka dan untuk para remaja putri dapat terlindungi dari infeksi HPV penyebab kanker serviks dengan harga yag lebih terjangkau,” ujar perempuan sudah pernah vaksin di Kuala Lumpur saat medical check-up ini.
Program vaksinasi dan edukasi kesehatan reproduksi remaja berbasis sekolah di Denpasar ini merupakan yang pertama yang dijalankan di Bali dan di Indonesia. “Sektor pendidikan merupakan tempat dibangunnya awal kesadaran pentingnya pencegahan kanker serviks kepada remaja melalui pemahaman kesehatan reproduksi remaja dan pemberian vaksinasi untuk pencegahan kanker serviks. Kalau generasi sekarang ini sehat, generasi yang akan dihasilkan nanti juga sehat. Ini akan menjadi modal SDM kita,” ujar Dr. Ir. Rumawan Salain, Ketua Dewan Pendidikan Denpasar. Ia juga berharap kegiatan serupa bisa dilakukan di sekolah-sekolah lain yang ada di Denpasar dan Bali. –wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s