Kunjungi Kompleks Pura Terbesar di Dunia (Turni 8)

Posted: August 19, 2011 in Journey
Tags: , , , , ,

SETELAH menempuh perjalanan 4 jam, kami tiba kembali di kota New Delhi. Lokasi yang dituju, Palika Bazar, pasar bawah tanah tempat penjualan kain sari dan bermacam barang. Palika Bazar mirip Pasar Tanah Abang di Jakarta. Peserta tirtayatra berpencar untuk mencari oleh-oleh.

Ada yang membeli kain sari, selendang, kaus, dompet, bahkan koper. Kami harus pintar menawar kalau tidak ada tulisan “fixed prize” di kios. Tawaran bisa sampai 30% dari harga yang ditawarkan. Saya membeli beberapa kain dari kaus bertuliskan “India”. Kaus merupakan oleh-oleh wajib yang saya beli untuk anak saya. Jika saya atau istri keluar negeri atau keluar kota, kaus bertulis nama tempat yang kami kunjungi menjadi oleh-oleh wajib.

India tak beda jauh dengan Jakarta dan Denpasar dalam urusan gelandangan dan pengemis (gepeng). Banyak anak-anak gepeng yang berkeliaran di jalan khususnya dekat lampu merah. Awalnya anak-anak ini meminta uang. Kalau tak diberi, mereka memaksa kami untuk mengambil kalung-kalung yang mereka bandrol 10 rupees. Mereka tidak akan pergi kalau tidak diberi uang. Beberapa peserta terpaksa mengeluarkan uang agar bisa lepas dari kerumunan anak-anak itu.
Dari Palika Bazar, kami makan siang lalu menuju Akshardham. Ini merupakan kompleks pura terbesar di dunia. Luasnya 101 hektare. Pernah menerima penghargaan dari World Guinnes Book sebagai pura terbesar di dunia. Untuk masuk kompleks pura, kami harus antre. Pemeriksaan sangat ketat, seperti di Pura Krishna Jalma Bhoomi. HP, kamera, video, dompet, pulpen, kertas, dilarang dibawa masuk. Kami hanya membawa uang. Saat antre, orang-orang India ada yang tidak tertib. Mereka main serobot dan kami harus mengalah.
Di kompleks ini kami berkeliling untuk menyaksikan proses dari awal pembangunan pura ini. Cuaca panas tak menghalangi kami untuk menikmati perjalanan. Di beberapa lokasi, kami berdoa. Untuk foto, karena dilarang membawa kamera, kami membayar foto langsung jadi.
Salah satu agenda primadona di Akshardham adalah pementasan film dokumenter perjalanan Nilakanta kecil yang kemudian dikenal sebagai Bhagawan Swaminarayan, sepanjang 12 ribu km selama tujuh tahun. Pembuatan film dokumenter berdurasi 40 menit ini dilakukan di 108 lokasi termasuk pegunungan Himalaya dan melibatkan 45 ribu figuran. Untuk menyaksikan film ini, ada dua lokasi yang disiapkan, satu untuk film berbahasa Hindi, satu lagi berbahasa Inggris. Karena yang berbahasa Inggris belum buka, kami nonton film yang berbahasa Hindi. Walau tidak mengerti bahasanya, kami bisa memahami alur cerita Nilakanta Yatra ini.

Setelah menyaksikan film dokumenter, kami berkeliling naik perahu di areal Akshardham untuk mengikuti perjalanan India sejak 10 ribu tahun silam, mulai dari mulainya peradaban hingga India modern seperti sekarang. Peserta tirtayatra Telkomsel yang baru pertama kali ke India terkagum-kagum melihat atraksi bernilai spiritual yang disajikan pengelola Akshardham yang dibuka sejak 6 November 2005 ini. Orang yang berada di balik pendirian Akshardham adalah Yogiji Maharaj yang dilanjutkan Pramukh Swami Maharaj (Swamishri). Persiapan pembangunan dilakukan 32 tahun untuk lahan dan lima  tahun untuk membangun kompleksnya.

Atraksi pamungkas yang menakjubkan adalah permainan air sebagai simbol gejolak Panca Maha Bhuta dalam kehidupan manusia. Air mancur yang dipadu sinar lampu berwarna-warni dan diiringi musik tradisional dan musik modern, membuat suasana petang itu menjadi terang benderang. Sebelum keluar dari Akshardham, saya dan beberapa teman masuk ke toko cenderamata. Saya membeli buku tentang Akshardham agar bisa menyelami lebih dalam, apa saja yang ada di kompleks ini. Agenda hari ketujuh perjalanan tirtayatra diakhiri dengan makan malam dan beristirahat di hotel TJS Royale di Karol Bagh, New Delhi.

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan ke Kuruksetra. Namun, sebelum berangkat, peserta tirtayatra Sri Kusworini Puspitosari menangis di samping ayahnya, Sukowiyoto. Ternyata Mbak Rini bersedih mendapat informasi tentang ibunya, Sujiati, yang ada di Blitar meninggal dunia. Pak Suko juga terlihat sedih namun ia berusaha tegar dan terus menguatkan hati anaknya yang bekerja di Telkomsel Balikpapan ini. Semua peserta tirtayatra melakukan doa bersama dipimpin Pak Putu Ane Edi.
Di kawasan Kuruksetra, kami berkunjung ke Brahma Sarowara yang dipercaya sebagai tempat pertamakalinya Dewa Brahma melakukan agni hotra dan tempat permandian prajurit Pandawa dan Korawa pada masa perang Mahabharata. -wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s