Di Tempat Lahir Khrisna Ada Masjid (Turni 7)

Posted: August 19, 2011 in Journey
Tags: , , , ,

SETELAH menempuh penerbangan dua jam, pesawat Jet Lite mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Indira Gandhi. Cuaca cerah dan suhunya sekitar 40 derajat. Dua dari anggota rombongan, Reka Hardian dan dan Suko Waluyo, harus mengurus visa on arrival (VoA) di bandara ini. Sambil menanti mereka, kami melewati pemeriksaan imigrasi dan mengumpulkan bagasi bertanda pita merah-putih.
Saat teman-teman sibuk berfoto di bandara terluas di Asia ini, mata saya berkaca-kaca. Entah bagaimana kejadiannya, saya menangis. Guru yang berada di sebelah saya langsung memeluk dan membiarkan saya menangis. Sebenarnya saya malu karena menangis, tetapi rasa terharu bisa sampai di India membuat saya tak bisa menahan diri.
Setelah semua bagasi terkumpul, kami keluar dari bandara. Di tempat kedatangan, kami disambut Rawi, pimpinan biro perjalanan yang bermitra dengan SAT Tours. Rawi menuturkan eratnya hubungan Bali dan Indonesia dengan India. Karena itu ada upacara Kalingga Bali Yatra sebagai penanda eratnya hubungan tersebut.
Lokasi pertama yang kami tuju, Pura Siwa Murti yang letaknya tak jauh dari bandara. Kami turun untuk bersembahyang. Kami juga mohon tuntuan agar selama tirtayatra Telkomsel ini kami mendapat kekuatan agar semua berjalan lancar.
Selanjutnya, peserta makan malam di restoran dan check in di hotel di daerah Karol Bagh, New Delhi. Pembagian kamar masih tetap seperti yang dulu. Saya sekamar lagi dengan Gung Manike. Di sebelah kamar kami ada Bli Komang Edy dan Pak Darma Sucita. Kebetulan, di depan kamar kami ada sofa untuk tempat bersantai. Kami ngobrol sambil menuturkan pengalaman selama perjalanan dari Thailand hingga Nepal. Tak lama kemudian, datang teman yang lain, Made Udi, Pak Sudiagus, Pak Raka, dan Reka, bergabung dengan kami.
Keesokan harinya, kami bersiap menuju kota suci Wrindhawan. Tas yang besar dititipkan  di hotel sedangkan tas kecil yang berisi pakaian ganti dibawa. Perjalanan dari New Delhi menuju Mathura ditempuh 4 jam. Bus pariwisata yang kami tumpangi tidak boleh melaju lebih dari 40 km/jam. Itu sudah aturan di India. Tiap memasuki satu negara bagian, bus pariwisata harus membayar pajak, 100 dolar per bus.
Suasana kawasan ini tak ada bedanya dengan Nepal. Suara klakson terdengar sepanjang jalan. Bahkan banyak truk atau kendaraan besar yang menuliskan pesan di bagian belakangnya, Horn Please. Maksudnya, kendaraan yang ada di belakang diminta membunyikan klakson jika ingin menyalip. Kebanyakan kendaraan besar tidak memiliki spion, jadi klakson menjadi penanda ada kendaraan lain di belakang. Untungnya, orang-orang India termasuk tertib berlalu-lintas. Tidak kami temukan ada kendaraan yang ugal-ugalan. Yang ada hanyalah kemacetan kalau truk atau bus paling depan berjalan lambat, kendaraan lain terpaksa harus mengekor.
Kami tiba di hotel Madhuvan di Mathura bertepatan dengan waktu makan siang. Setelah masuk kamar dan menaruh tas, kami langsung menuju restoran hotel untuk makan siang. Listrik di Mathura ternyata suka hidup-mati. Sebentar hidup, sebentar mati. Genset pun kadang menderu kadang lenyap suaranya. Usai makan siang, saya hanya di kamar sambil menanti waktu berangkat ke sungai Yamuna. Cuaca di luar yang sangat panas membuat kami malas keluar. Lebih baik kami diam di kamar sambil menonton televisi yang semuanya saluran berbahasa Hindi.
Pukul 15.00 waktu setempat, kami berangkat menuju Sungai Yamuna. Perjalanan tak begitu jauh. Namun, untuk tiba di tepi sungai, kami naik reksa (model becak tetapi pengemudinya di depan). Satu reksa berisi dua penumpang. Saya bersama Pak Gung Wira, pemenang kuis tirtayatra Telkomsel dari Depok. Kami melewati gang-gang kecil yang penuh orang berlalu-lalang. Gang kecil ini ternyata bisa juga dilewati mobil. Tetapi, kalau sudah ada mobil lewat, suara klakson tidak akan pernah berhenti. Senggolan antara kendaraan kerap terjadi. Orang-orang itu tidak marah. Mereka hanya menyebut radhe..radhe..artinya anak Tuhan…anak Tuhan.

Pemandangan di tepi Sungai Yamuna sangat mengesankan. Ada bekas kerajaan Hindu yang masih berdiri tegak. Pak Putu Ane Edi mengajak kami menyeberangi sungai dengan dua perahu. Posisi yang kami pilih sangat bagus karena ada background bekas istana. Sungai Yamuna merupakan salah satu sungai suci di India yang diyakini menjadi tempat turunnya Dewa Siwa.
Mengingat cuaca sangat panas, kesempatan mandi di Sungai Yamuna kami manfaatkan sebaik-baiknya. Selain melakukan pembersihan, kami juga berdoa agar semua kekotoran yang ada pada diri kami bisa lepas. Selesai mandi, kami kembali ke seberang. Naik lagi reksa menuju  Taman Tulasi di Wrindhawan.

Secara kasat mata, taman ini penuh pohon tulasi. Ada cerita yang menuturkan tempat tersebut merupakan lokasi para dewa bermain-main. Jika malam hari, tanah di taman tersebut bisa bergoyang. Tak lupa, kami memohon tanah suci dan daun tulasi di taman ini. Tulasi adalah tanaman yang menyimbulkan nilai bhakti  seorang dewi bernama Dewi Wrindavan yang karena kesetiaannya berbhakti kepada Dewa Wisnu membuat suaminya, Raja Jarandara, selalu menang dalam peperangan.  Namun, suatu ketika Jarandara dikalahkan Dewa Siwa. Tetapi, Jarandara yang kalah itu adalah  Dewa Wisnu yang menyamar. Dewi Wrinda akhirnya berhenti memuja Dewa Wisnu. Ia menyeburkan dirinya ke dalam api sebagai wujud kesetiaan pada suaminya. Dewa Wisnu merasa bersalah lalu menjadikan Dewi Wrinda sebagai tumbuhan tulasi sebagai simbol bhakti umat manusia kepada Dewa Wisnu.

Berikutnya perjalanan menuju Pura Khrisna Jalma Bhoomi, tempat lahirnya Shri Krisna. Pemeriksaan untuk masuk pura ini sangat ketat. Siapa pun tidak diperkenankan membawa ponsel, kamera, dan video. Pemeriksaan dilakukan polisi. Di areal ini ada masjid tetapi tidak pernah dipakai sembahyang. Kami beruntung bisa ikut acara pemujaan dan mendapat percikan air suci. Malamnya kami kembali ke hotel untuk makan malam dan beristirahat. Selasa, 31 Mei paginya, kami kembali ke New Delhi. -wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s