“Hadiah” dari Dewi Gangga (Turni 9-habis)

Posted: August 19, 2011 in Journey
Tags: , , , ,

PERJALANAN kami berikutnya menuju Bhisma Kunda. Di sinilah tempat berbaringnya Bagawan Bhisma beralaskan anak panah Arjuna. Lalu rombongan menuju Jyotisar, tempat Arjuna mendapat wejangan Bhagawagita dari Krisna. Peserta tirtayatra Telkomsel bergantian membaca Bhagawadgita di bawah pohon beringin dan berjalan mengelilingi pohon beringin. Jika ada yang bernazar, bisa mengucapkan nazar lalu mengikatkan benang di pohon beringin tersebut. Jika nazar sudah terkabul, benang harus diputuskan. Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam, kami tiba di Haridwar, daerah suci yang dilintasi sungai Gangga. Kami tiba di hotel Alaknanda pukul 19.30 waktu setempat. Hotel berarsitektur India kuno ini berada di tepian sungai Gangga.
Saya mengucapkan syukur karena niat untuk mengunjungi sungai suci terwujud. Namun, kami tidak sertamerta mandi di sungai. Setelah memasukkan barang ke kamar, kami turun lagi untuk bersembahyang sekaligus “permisi” karena akan mandi di sungai yang suci itu. Air sungai Gangga sangat dingin. Badan saya sampai bergetar begitu menyentuh airnya. Setelah menyesuaikan diri, saya baru berani berendam. Tepian sungai Gangga dilengkapi beton dan rantai pengaman. Di pinggir juga ada tangga yang bisa dipakai untuk tempat duduk. Selesai mandi kami bergegas masuk kamar. Kamar saya dan Gung Manike di lantai III. Dari depan kamar kami bisa melihat aliran sungai Gangga.
Usai makan malam, saya berjalan-jalan bersama Gung Manike, Udi Adnyana, dan Pak Sudiagus menuju pasar seni Haridwar. Kami berjalan kaki melewati dua jembatan. Sepanjang tepian sungai Gangga banyak orang yang tidur hanya beralas tikar, terpal, atau koran. Mereka adalah orang-orang yang sudah melepaskan diri dari keperluan duniawi. Untuk makan, mereka mengandalkan punia dari orang lain sedangkan pakaian yang dikenakan seadanya. Tetapi, tak ada wajah-wajah sedih yang terlihat. Mereka bergembira “menetap” di tepian sungai Gangga sampai ajal menjemput.
Kembali dari pasar seni, kami mandi lagi. Awalnya memang dingin tetapi setelah terbiasa, badan bisa menyesuaikan diri. Sambil mandi, saya berdoa mohon kepada Dewi Gangga. Akibat kelelahan dan berkat kesegaran badan setelah mandi, tidur menjadi lelap. Saya tidak tahu saat listrik mati dan hujan lebat di Haridwar malam itu.
Keesok harinya, kami menuju Pura Wishnu Khrisna Lila dan Pura Shre Yantra, tempat pemujaan sakti Tri Murti. Lokasi Pura Shre Yantra cukup unik karena masuk goa dan ada pemberkatan. Kami mendapat anugerah berupa koin dan daksina. Koin disimpan dalam dompet sedangkan daksina dibawa pulang. Kain pengikat daksina dijadikan sarana kaul. Seperti di Jyotisar, kalau kaul sudah terlaksana, harus dibayar. Bayarnya boleh dengan cara menitipkannya ke orang yang berkunjung ke Pura Shre Yantra. Kami juga berkunjung ke ashram Santi Kunj dan ikut meditasi di miniatur pegunungan Himalaya.
Tujuan berikutnya, kota suci Hresikesh. Kami menerima pemberkatan dari Mahaguru Swami Satyapal Shree Sachcha Akhileswara Mahadev yang turun selama tiga bulan. Selebihnya Mahaguru ini berada di Nepal. Usai pemberkatan dan membaca garis tangan, kami menuju Pura Trayambhakam melewati jembatan Laksman Jhola. Jembatan ini dibuat Laksamana saat bertapa untuk penebusan dosa. Pulangnya kami ke Pura Siwa Rudraksha, membeli rudraksha (tasbih) dan menerima pemberkatan dari Mahaguru. Malam harinya saya dan teman-teman pergi ke pasar seni lagi untuk membeli suvenir. Saya membeli gantung kunci berbentuk Ganesha karena ini yang saya anggap mewakili oleh-oleh khas India.
Perjalanan tirtayatra hari ke sepuluh menuju Pura Candi Dewi. Pura ini berada di atas bukit. Untuk naik, kami naik troli (kereta gantung). Satu troli memuat empat orang. Jika ingin jalan kaki juga bisa; perlu waktu satu jam untuk mencapai pura ini. Dari Pura Candi Dewi, kami ke Pura Mansa Dewi (Pura Melanting). Lokasinya juga di perbukitan dan kami naik troli lagi. Karena umat Hindu yang sembahyang banyak, kami harus antre. Sembari menantinya, ada beberapa teman yang berjalan-jalan dulu ke pasar seni Haridwar. Saya tidak ikut jalan-jalan karena sudah dua kali mengunjungi pasar seni itu.


Banyaknya pengunjung di pura ini dimanfaatkan beberapa oknum. Mereka memaksa kami untuk memberikan punia 100 rupees. Tetapi, kami mengabaikan permintaan tersebut. Di pura ini juga ada tempat menyampaikan kaul. Caranya, sampaikan permohonan sambil berdoa lalu ikatkan gelang di pohon.
Selesai berdoa, kami kembali ke hotel untuk bersiap mengikuti acara ararthi puja di Harkii Porii. Saya memanfaatkan kesempatan untuk mandi lagi di sungai Gangga. Sambil mandi, saya berdoa. Tiba-tiba, kaki saya menyentuh sesuatu. Saya menyelam untuk mengambil benda itu. Ternyata, sebuah patung Ganesha yang terbuat dari tembikar. Saya melanjutkan mandi lagi. Kembali kaki saya menyentuh koin. Saya menyelam lagi untuk mengambil. Koin itu bernominal 2 rupees. Pak Putu Ane Edi yang menjadi pemandu kami mempersilakan saya membersihkan apa yang saya dapat itu dan menyimpannya dengan baik. Saya juga diminta melakukan penebusan dengan melempar koin ke sungai Gangga sembari menyampaikan terima kasih atas ”hadiah” yang diberikan Dewi Gangga.
Di Harkii Porii kami mengikuti upacara api suci dengan mengenakan pakaian adat Bali. Kami menjadi perhatian orang-orang di sana. Kami juga mendapat kesempatan menyungsung arca Dewi Gangga. Ribuan orang hadir mengikuti upacara tersebut. Beberapa peserta tirtayatra menitikkan air mata karena bisa berbaur dengan ribuan umat Hindu yang ada di India. Usai upacara, kami mendapat tirta dari sungai Gangga. Masing-masing mendapat 1 jerigen kecil.
Sabtu (4/6) kami berangkat menuju New Delhi. Di ibu kota India ini, kami mampir ke bekas istana Indrapasta yang sekarang bernama Purana Qila. Ini kerajaan Hindu yang diambil alih Islam. Selanjutnya pergi ke India Gate yang menjadi 0 kilometernya India, lalu pergi ke Laksmi Narayana Temple. Setelah makan malam, kami bersembahyang sekaligus pamitan di Pura Siwa Murti. Pesawat Thai Airways yang kami tumpangi berangkat pukul 24.00 waktu India dan tiba di Bangkok pukul 05.30 keesokan harinya. Dari bandara Suvarnabhumi, kami berangkat menuju bandara Ngurah Rai, Denpasar, pukul 10.00. Ada beberapa peserta yang berangkat lebih dulu karena mereka menuju bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Pukul 14.00 wita saya tiba di Denpasar. Senang rasanya kembali ke Denpasar dan berkumpul dengan istri dan anak. Semoga perjalanan ini bisa memberi inspirasi bagi kita semua. –wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s