Memaknai 24 Jam dan 12 Hari (Turni 4)

Posted: July 28, 2011 in Journey
Tags: , , , , ,

PERJALANAN tirtayatra di Negara Kaki Langit, Nepal, diawali dengan mengunjungi Pura Pasupatinath sebagai pura terbesar, tertua dan terlengkap dalam mahzab Siwaisme di Nepal. Pura ini sudah ada sejak abad ke-5 Masehi dan termasuk kawasan budaya dunia. Lokasinya tak jauh dari Bandara Tribhuvana, Kathmandu. Dulu di dekat pura tersebut ada lokasi tempat Bu Teresa bertugas sebagai misionaris. Namun, tempat itu kini sudah berubah menjadi panti asuhan dengan konsep Hindu.
Pura Siwa Pasupatinath sama dengan Pura Dalem di Bali. Dalam pura terdapat lingga besar berlapis emas sebagai simbol pemujaan Siwa dalam wujud monoteisme, Mahadewa atau Tuhan Mahabesar dan Tunggal. Tour leader kami, Putu Ane Edi, menjelaskan pemangku dan orang yang masuk ke Pura Pasupatinath harus mengenakan pakaian seperti orang Muslim yang sedang menunaikan ibadah haji. Karena kami mengenakan pakaian kasual, jadi tidak masuk ke dalam pura. Kami hanya melihat dari luar. Di depan Pura Pasupatinath ada 13 lingga besar tempat pemujaan Mahadewa. Tempat ini biasanya ramai saat hari Siwaratri. Jutaan orang datang ke Pasupatinath untuk melakukan pemujaan Siwa. Saat kami mengunjungi lingga-lingga tersebut, sedang ada kegiatan syuting acara televisi. Lokasi tersebut dipasangi police line. Untungnya, rombongan pemenang kuis tirtayatra Telkomsel ini masih bisa berfoto di dekat lingga bersama para sadhu.

berfoto dengan para sadhu di depan Pura Pasupatinath

Sadhu adalah orang yang sudah melepaskan diri dari ikatan duniawi. Walaupun ada yang sudah memiliki jabatan tinggi di perusahaan, tetapi kalau ada panggilan jiwa untuk mencari makna aksara mereka akan melepas semua jabatannya. Keluarga akan ditinggalkan untuk memperdalam ajaran spiritual. Namun, jika istrinya ikut, mereka akan bertempat tinggal di ashram untuk melakukan penciptaan-penciptaan spiritual. “Sadhu tidak pernah mandi. Tetapi, badan mereka tidak bau. Rambut yang gimbal pun tak bau. Orang akan berebut untuk mendapatkan restu dari para sadhu,” kata Putu Edi yang juga pemilik SAT Tours.
Peserta tirtayatra pun beruntung bisa berfoto dengan para sadhu yang ada di dekat Pura Pasupatinath dan mendapat berkat. Tangan sadhu menyentuh kepala kami dan kami menyentuh kaki mereka. Sebagai punia, kami memberikan koin untuk mereka. Koin-koin ini dikumpulkan untuk disumbangkan lagi ke pura atau ashram.

Di depan Pura Pasupatinath juga ada tempat kremasi. Dalam konsep Hindu, saat badan lepas dengan jiwa, kewajiban orang yang masih hidup mengembalikan badan yang mati itu kepada yang punya. Dalam tatanan Panca Maha Bhuta, unsur padat kembali ke padat (dalam hal ini Ibu Pertiwi). Kunci angka Ibu Pertiwi adalah 24 jam. Jadi, kepercayaan masyarakat Hindu di Nepal, sebelum 24 jam, harus diadakan kremasi. Biaya kremasi tidak mahal. Jika dihitung dalam rupiah, tidak akan sampai Rp 100 ribu.
Prosesinya sangat sederhana. Mayat dibakar di lokasi yang ada sesuai dengan kasta yang meninggal. Ada kasta Brahmana (paling dekat dengan Pura), lalu Ksatria, Wesya, dan Sudra. Yang paling jauh ada tempat kremasi untuk Candala (orang yang tidak diketahui asal-usulnya). Seringkali kasta Candala inilah yang membantu proses kremasi. Bagi orang kaya, kremasi dilakukan dengan menggunakan kayu cendana. Selesai pembakaran, abu dimasukkan ke dalam kelapa atau tempayan dan dibawa pulang.
Jika mayat tidak dikremasi dalam waktu 24 jam, artinya badan yang lepas dari jiwa ini sudah meminjam waktu. Ini harus dikembalikan agar tercipta keharmonisan. Upacara pengembalian ini disebut dengan car atau caru.
Orang yang dekat dengan orang yang meninggal akan menjadi “panitia” upacara pembakaran. Ia mudah dikenali karena mengenakan pakaian serba putih. Setelah upacara selesai, ia akan menggundul kepalanya. Sesampai di rumah, abu tersebut disemayamkan untuk didoakan selama 12 hari agar roh orang yang meninggal mendapat tempat yang sesuai. Bagi orang biasa, doa-doa selama 12 hari hanya melibatkan keluarga. Tetapi, bagi orang kaya, mereka akan mendatangkan para pendeta dan orang-orang suci untuk melakukan doa-doa. Di Bali, konsep seperti ini dikenal dengan “ngrorasin”. Roras artinya 12 dalam bahasa Bali. Selama 12 hari ini seharusnya dilakukan pembacaan doa-doa untuk mengantarkan roh orang yang sudah meninggal termasuk menyampaikan permohonan maaf jika ada kesalahan yang pernah dibuat selama ia hidup. Angka 12 ini berkaitan dengan angka suci Brahma sebagai pencipta. Tujuannya, agar dalam reinkarnasi berikutnya mendapat tempat dan kehidupan yang lebih baik.

Karena Pura Pasupatinath ini banyak dikunjungi orang-orang yang tirtayatra, pedagang acung pun memanfaatkan kesempatan. Mereka rata-rata fasih berbahasa Inggris untuk menawarkan barangnya. Jika satu pedagang, barangnya dibeli, yang lain akan menuntut agar barangnya dibeli juga. Dari Pura Siwa terbesar, kami melanjutkan perjalanan menuju Pura Changu Narayana sebagai Pura Wisnu tertua di Nepal. –wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s