Ketatnya Pemeriksaan Keluar Nepal (Turni 6)

Posted: July 28, 2011 in Journey
Tags: , , , ,

LILIN habis saat Gung Manike mauk kamar hotel. Saya lega karena teman sekamar datang. Saya ceritakan insiden kamar mandi. Dia tertawa mendengar cerita saya. Ternyata alat yang ada di kamar mandi itu memang mengeluarkan api untuk memanaskan air. Saya jadi malu tetapi merasa tenang karena bukan saya penyebab listrik mati. Listrik di Nagarkot memang diatur mati pukul 20.00 hingga pukul 06.00 untuk penghematan. Oleh karena itu lilin disiapkan sebagai penerangan kamar. Akhirnya saya bisa tidur nyenyak di Nagarkot yang bersuhu 15 derajat Celcius itu. Suhu ini termasuk panas bagi orang Nagarkot, karena cuaca biasanya sampai di bawah 0 derajat.

Sabtu, 28 Mei 2011, peserta tirtayatra melaksanakan Surya Sewana, pemujaan terhadap Dewa Surya di lantai atas hotel yang memiliki lokasi lapang. Dari sini peserta bisa menatap pegunungan Himalaya. Matahari terbit seakan-akan dari balik gunung. Sinarnya yang menerobos awan menjadi objek bidikan kamera. Semua peserta memanfaatkan momen untuk berfoto dengan latar belakang sunrise di dataran tertinggi di Nepal.

Rangkaian pegunungan Himalaya mencakup dari gunung Karyolung (6681) sampai Annpurna Dakshin (7219). Ada 30 gunung yang membentang. Yang tertinggi Mount Everest (8848), yang terendah Kharane Tippa (5647). Setelah puas menikmati pemandangan alam, kami sarapan dan melanjutkan perjalanan tirtayatra menuju Pura Bhajrayogini.
Pura ini terletak di perbukitan. Kami harus mendaki beberapa anak tangga untuk mencapai puncak. Pura ini memiliki mandala Bumi Sangkala sebagai tempat untuk melakukan segala upacara yang berkaitan dengan penciptaan keharmonisan (pecaruan), mandala Candra Sangkala sebagai tempat menyucikan diri dalam tatanan Buddha sebagai Wisnu yang bermakna menjaga hubungan yang harmonis antara bumi dan langit, serta mandala Surya Sangkala sebagai ista Dewata yang dipuja dalam wujud Mahadewi Bajrajogini.
Mengingat Pura Bajrajogini sedang direnovasi, arca pindah ke belakang lokasi asli. Di depan arca, kami bersembahyang yang diawali dengan Tri Sandhya dipimpin Pak Raka Santeri, pendamping dari PHDI Bali.
Dari Pura Bajrajogini kami menuju Pura Buddha Nilakanta yang menjadi simbol perpaduan mahzab Siwa dan Buddha. Pura ini ditemukan abad ke-7 oleh seorang petani dan hasil meditasi Raja Nepal saat itu. Pemujaan di pura ini dalam bentuk arca Siwa-Buddha tidur dengan beralaskan pahatan ular dari bahan batu hitam dan berada di dalam tanah. Pura ini sangat dipercaya mampu menghilangkan semua kekotoran dan menjadi sumber kemakmuran bagi umat manusia.
Tujuan kami berikutnya adalah kawasan Kathmandu Square. Namun, sebelumnya kami check in dulu di Vaishali Hotel. Di Kawasan Kathmandu Square, tujuan kami adalah tempat tinggal Dewi Kania Kumari yang dipercaya masyarakat Nepal sebagai awatara Dewi Parwati. Kania Kumari diyakini bertugas menjaga keamanan dan stabilitas kesucian Nepal. Walaupun baru berusia 7 tahun, Kania Kumari seorang peramal andal yang bisa mengetahui masa depan Nepal dan ahli bahasa Sansekerta.


Kania Kumari muncul tak lebih dari 5 menit dari jendela kediamannya. Pengunjung tak dibolehkan memotret atau merekam jika sang Dewi muncul. Saat rombongan kami datang, kami harus menanti sekitar 15 menit. Begitu Kania Kumari muncul, tatapan matanya mengarah ke salah seorang anggota rombongan kami yang akrab disapa Guru. Sepertinya ada dialog batin antara kedua orang ini. Sebelum masuk rumah, Dewi yang mengenakan pakaian merah ini menyapu pandangannya ke semua orang yang hadir. Kami juga diberkati agar bisa datang lagi ke Nepal.

Setelah berfoto bersama di kediaman Dewi Kania Kumari, peserta tirtayatra Telkomsel kembali ke hotel. Malamnya, kami makan di luar hotel dan membeli beberapa oleh-oleh khas Nepal, seperti selendang dan pashmina. Malam harinya, para peserta tirtayatra yang gila bola menyaksikan pertandingan final Liga Champions yang dimenangkan Barcelona setelah melibas Manchester United 3-1.

Minggu, 29 Mei 2011, kami berangkat menuju bandara Tri Bhuvana, Kathmandu. Sebelum masuk ke pesawat Jet Lite yang akan membawa kami ke India, kami harus melewati 5 kali pemeriksaan manual. Pemeriksaan pertama di pintu masuk bandara. Selain petugas bandara, ada anjing pelacak yang mengendus jika ada barang haram dibawa keluar Nepal. Pemeriksaan kedua di eskalator menuju lantai II. Pemeriksaan ketiga, setelah pengurusan imigrasi. Semua yang mengandung logam harus dilepas. Laki-laki dan perempuan pemeriksaannya terpisah. Mulai dari sepatu sampai kacamata harus dibuka. Sedikit saja security gate berbunyi, penumpang harus balik lagi ke belakang untuk melepas barang yang mungkin menimbulkan bunyi itu. Semua barang dalam tas yang dibawa ke pesawat harus dikeluarkan. Jika sudah lolos, ada stempel khusus yang diikat di tas. Menjelang masuk landasan pacu, ada pemeriksaan lagi. Ini pemeriksaan keempat. Urusan pemeriksaan belum selesai karena di bawah tangga pesawat ada pemeriksaan kelima. Kami harus antre di tengah cuaca yang terik. Tas yang sudah diperiksa dibongkar lagi. Seorang teman yang kedapatan membawa korek kayu, harus merelakan koreknya diambil. Setelah lolos pemeriksaan terakhir ini, baru kami naik tangga pesawat sembari menyerahkan boarding pass. Selama penerbangan 2 jam menuju Bandara Internasional Indira Gandhi, India, saya tertidur. –wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s