Kartu Keberuntungan dari Ista Dewata (Turni 3)

Posted: July 28, 2011 in Journey
Tags: , , , , ,

USAI mengunjungi patung Buddha kami menuju Grand Palace, istana raja yang dibangun sejak tahun 1782. Tahun lalu saya sudah tiba di depan istana. Tetapi, karena mengenakan celana pendek, saya tidak dibolehkan masuk. Memotret juga dilarang petugas. Aturan di Grand Palace sangat ketat. Pengunjung tidak boleh mengenakan celana pendek, baju singlet, dan semua pakaian minim. Pakaian yang dikenakan harus sopan. Pengelola menyediakan tempat penyewaan pakaian bagi yang kepepet ingin masuk.

Istana seluas 60 are itu dibangun tiga tahun. Di kompleks istana terdapat kuil, dan rumah raja. Ada juga Emerald Buddha, tempat raja bermeditasi. Jika raja atau keluarganya mau bersembahyang, wisatawan tak boleh masuk ke kompleks bangunan ini.

Di Emerald Buddha, kami berjumpa mahasiswa dari Bali yang mendapat beasiswa pengajaran bahasa Inggris dari King Mongkut’s University of Tecnnology Thonbury, Kadek Ray, yang berasal dari Karangasem. Ia dan beberapa mahasiswa baru tengah mengikuti orientasi dengan berkunjung ke Grand Palace.
Dari Grand Palace kami naik perahu melintasi sungai Chao Phraya menuju Wat Arun, sebuah kuil terkenal di Bangkok. Di sela-sela perjalanan perahu berhenti untuk menyapa pedagang yang menjajakan barangnya di atas perahu. Kami juga berhenti untuk memberi makan ikan patin. Ikan yang berada di belakang atau lingkungan kuil ini disucikan dan tidak boleh ditangkap atau dipancing.
Di Wat Arun, kami melihat candi yang mirip Candi Borobudur di Jawa Tengah. Setelah berfoto, peserta dipersilakan belanja di pasar seni yang ada di areal tersebut. Thailand dikenal dengan sutranya yang murah. Karena itu harga kaus murah-murah. Satu lusin kaus warna warni bisa diperoleh dengan harga Rp 400 ribu. Selain menggunakan mata uang baht, pedagang juga menerima uang rupiah. Saya tidak terlalu banyak belanja karena sebulan sebelumnya, saat istri saya pergi ke Bangkok.telah membawakan banyak kaus bergambar bendera Thailand dan bertuliskan Thailand. Usai belanja kami kembali naik perahu menuju restoran di tepi sungai Chao Phraya.

Agenda pertama tirtayatra mulai di Pura Siwa-Uma Dewi Mariaman Temple untuk mohon penyucian, mohon kekuatan kepada Dewa Ganesha, Kartikeya, Siwa-Uma, Brahma, dan Dewata Nawa Sanga.
Kami bersembahyang dengan mempersembahkan daksina yang isinya pisang, kelapa, susu, dupa, sesari, dll dan ditempatkan di kapar. Prosesinya mulai dari penyalaan dupa lalu mempersembahkan daksina. Kami menyampaikan doa dengan menyebut nama lengkap, dari mana, dan apa tujuannya. Setelah daksina diambil, kami diberi prasadham. Setelah keluar temple, kami mengelilingi patung dewata nawa sanga tiga kali, berdoa di patung Brahma, lalu mengambil kartu keberuntungan dari Ista Dewata. Saya mendapat kartu bergambar Dewa Siwa yang didampingi Dewi Parwati (istrinya) dan Dewa Ganesha (putranya).
Kami lalu pamit dengan sujud, kening menyentuh tanah. Suasananya sangat religius. Dari kuil kami menuju Gems, pusat permata di Bangkok. Kami disuguhi film mengenai pengolahan permata. Beberapa peserta tirtayatra membeli permata.

Malamnya kami makan di Restoran Royal Dragon, restoran terbesar di Asia. Ada atraksi petugas restoran berpakaian pendekar melaju dengan flying fox sambil membawa makanan. Suguhan khas ini menjadi andalan restoran yang menyajikan menu masakan Cina ini.
Di Royal Dragon kami berjumpa rombongan dari Bali. Mereka dari salah satu instansi pemerintah di Pemprov. Bali. Ternyata, rombongan kami dan mereka juga menginap di hotel yang sama.

Peserta tirtayatra Telkomsel di depan bandara Tri Bhuvana, Kathmandu

Jumat (27/5) pagi kami meninggalkan Thailand menuju Nepal. Pesawat yang kami tumpangi Thai Airways TG. 319.  Penerbangan ditempuh dua jam.
Di bandara Tri Bhuwana, kami harus antri untuk mengurus visa on arrival (VoA). Pak Putu, tour leader kami sudah berpesan, rombongan jangan sampai menyebar. Semua harus menjadi satu agar mudah dalam pengurusan VoA ini.
Saya sempat kaget melihat situasi bandara di Nepal ini. Dua jam sebelumnya kami berada di bandara internasional yang canggih dan baru. Tetapi, di Nepal suasananya berbeda. Bandaranya sederhana. Troli pengangkut bagasi juga tidak terlalu banyak. Poses kerja petugas bandara juga manual, termasuk untuk pemeriksaan bagasi. Masuk ke Nepal sangat mudah, tetapi keluar dari Nepal pemeriksaannya ketat sekali. Saya akan ceritakan nanti. –wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s