Insiden Kamar Mandi (Turni 5)

Posted: July 28, 2011 in Journey
Tags: , , , , , ,

DARI Pasupatinath, kami melanjutkan perjalanan menuju Pura Changu Narayana, pura tertua mahzab Wisnu. Perjalanan menuju lokasi pura melintasi daerah Nepal yang unik. Arus lalu-lintas terlihat krodit, suara klakson kendaraan tak pernah sepi. Awalnya saya merasa tidak nyaman dengan adanya suara klakson-klakson itu. Tetapi, lama-kelamaan, saya menjadi terbiasa.

Govind, pemandu dari Nepal yang mendampingi Pak Putu Ane Edi memberi tahu, dengan klakson, mereka bisa tahu ada kendaraan di belakang. Jangan harap bisa melihat mobil mulus dan beraksesori lengkap di Nepal. Kebanyakan mobil kotor dan tak memiliki spion. Jika ada kendaraan bersenggolan hingga bodi mobil lecet atau penyok, mereka tak memperpanjang urusan. Ribut sebentar di lokasi, setelah itu pergi. Traffic light dan rambu lalulintas lainnya juga tak ada. Apalagi polisi lalulintas. Yang ada hanya polisi militer. Beberapa teman peserta tirtayatra mengatakan Nepal ini mirip Indonesia 30 tahun yang lalu. Tetapi, Nepal banyak juga dikunjungi wisatawan khususnya pendaki gunung.
Saat kami tiba di Pura Changu Narayana, suasana mendung. Pura ini dibangun Raja Hari Datta Verma berdasarkan kitab Wisnu Purana yang menceritakan kemenangan Dewa Wisnu yang berwahana Burung Garuda dalam peperangan mengalahkan para raksasa. Di pura ini pertama kali Dewa Wisnu turun bersama Dewi Laksmi dengan wahana Burung Garuda. Karena itu, konsep Garuda Wisnu sangat dikenal di Nepal.

Setelah semua peserta melakukan sujud di arca Wisnu berlapis emas, hujan turun dengan lebat. Namun, tak sampai 15 menit. Berkah bagi kami karena mendapatkan hujan saat cuaca panas di satu-satunya negara yang sistem pemerintahannya menganut sistem Hindu ini.
Dari Changu Narayana, kami menuju Nagarkot yang dikenal dengan julukan kota suci para dewa. Lokasi Nagarkot berada di ketinggian 7200 kaki di atas permukaan laut. Ini merupakan dataran tertinggi di Nepal.

Perjalanan ke Nagarkot melewati daerah-daerah pedalaman Nepal. Kebanyakan rumah terbuat dari batubata, dibuat bertingkat tetapi tanpa atap. Kesannya seperti rumah yang belum jadi. Batubata menurut Pak Putu Edi diyakini sebagai kepercayaan masyarakat Hindu terhadap Dewa Brahma. Jika rumah terbuat dari batubata, aura negatif akan sulit menembusnya karena ada Dewa Brahma yang ber-stana di batubata itu. Di Bali, kepercayaan terhadap batubata juga ada. Karenanya rumah orang Bali zaman dulu menggunakan batubata. Sekarang pun batubata menjadi pilihan sebagai dinding rumah. Jika dipandang batubata terlalu mahal, ada yang menggunakan batubata sebagai fondasi saja, selanjutnya menggunakan batako.
Bangunan rumah orang Nepal yang seperti rumah belum jadi berkaitan dengan cuaca. Jika cuaca dingin, mereka tidur di dalam rumah. Tetapi, kalau cuaca panas yang sangat ekstrem, mereka tidur di lantai atas beratap langit.

Di Nagarkot, kami menginap di hotel Top View. Ini hotel tertinggi di Nagarkot. Ketika kami tiba di hotel, hujan gerimis. Sesekali kabut tersapu angin hingga menampakkan keindahan hamparan salju di pegunungan Himalaya. Selama di Nepal, kami kesulitan berkomunikasi dengan ponsel karena tidak semua operator memiliki partner di Nepal. Untung salah seorang peserta, Ni Wayan Maryani, yang akrab disapa Yuni, memiliki inisiatif menyewa ponsel salah seorang pegawai hotel Top View. Kami bergantian menggunakan ponsel sewaan itu untuk memberi kabar kepada keluarga di rumah.
Saya sekamar dengan Gung Manike. Sejak di Bangkok, kami selalu sekamar. Begitu di Nagarkot, matanya berkaca-kaca. Ia merasa terharu karena bisa tiba ke kota suci para dewa. Gung Manike adalah peserta termuda dalam rombongan pemenang kuis tirtayatra Telkomsel ini.

Foto bersama di Hotel Top View, Nagarkot

Usai makan malam, saya kembali ke kamar sedangkan Gung Manike mampir ke kamar Bli Komang Edy. Saya heran melihat ada lilin di kamar, saya pikir untuk cadangan jika suatu saat listrik mati. Kamar mandi di hotel ternyata dilengkapi sarana pemanas berbahan gas amoniak. Saya pencet-pencet saja tombol yang ada. Tiba-tiba ada nyala api di dalam kotak dan air panas menyembur dari kran. Saya kaget, melihat nyala api dan mengurungkan niat untuk mandi. Saya hanya mencuci muka. Beberapa detik kemudian, listrik mati. Lilin saya nyalakan. Saya merasa bersalah, apakah karena insiden di kamar mandi itu, listrik padam. Saya hanya diam di kamar, tidak berani tidur. Suasana sangat gelap. Pintu tidak saya kunci, karena Gung Manike belum datang. Akhirnya saya mengisi waktu dengan belajar meditasi “obat nyamuk” ala Pak Putu Edi. Saya membuat gambar lingkaran seperti obat nyamuk, lalu saya ikuti garis itu mulai dari awal hingga akhir. Dari 10 kali percobaan, hanya 7 kali saya bisa konsentrasi, sisanya melenceng dari garis. Saya kemudian mencoba tidur ditemani seekor kupu-kupu yang terbang di kamar. –wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s