Berkat “Dadong Dauh” (Turni 1)

Posted: July 28, 2011 in Journey
Tags: , , , , , ,

JIKA kita memiliki keinginan, pikirkan terus keinginan itu. Yakinlah kita bisa meraihnya. Dan, nantikan saatnya. Ini saya pelajari dari buku The Secret. Ternyata, setelah saya praktikkan, memang terbukti. Keinginan saya untuk pergi ke India ternyata tercapai. Bahkan melampaui ekspektasi. Saya juga bisa mengunjungi Nepal.

SENIN 4 April 2011, saya sedang rapat rutin di Kantor Koran Tokoh. Tiba-tiba ada SMS masuk yang menyatakan saya lolos seleksi tahap pertama kuis tirtayatra yang diadakan Telkomsel. Saya diwajibkan membuat biodata dan esai dengan tema ‘mengapa saya harus terpilih untuk tirtayatra’.
Saya terperanjat karena baru teringat pernah mendaftar untuk ikut kuis tirtayatra ini. Syaratnya menukar minimal 500 poin dan berlangganan satu Nada Sambung Pribadi (NSP). Oleh karena iseng, saya menukar 777 poin yang saya anggap angka keberuntungan saya. NSP-nya saya pilih lagu Dadong Dauh. Saya tidak hafal teks lagu ini. Yang jelas, ini lagu Bali yang kerap dinyanyikan orangtua untuk anak-anaknya.

Keluarga dan teman yang menelepon saya heran dengan pilihan NSP tersebut. Saya dikatakan berselera jadul (zaman dulu) karena memilih NSP yang tidak populer. Saya bergeming karena punya misi khusus dengan pemilihan NSP ini.

Setelah pemberitahuan lolos seleksi pertama, saya membuka website Telkomsel. Dari website, nama saya tertera di antara 200 nama pemenang yang lolos seleksi tahap pertama.
Saya pun mulai menyiapkan bahan esai dengan mengingat apa yang pernah saya tulis dalam skripsi untuk menyelesaikan S-1 Ilmu Hubungan Internasional di UPN Veteran Yogyakarta. Skripsi saya tentang dinamika hubungan India-Pakistan. Materi ini saya jadikan pembuka lalu saya kaitkan dengan sejarah India sebagai tempat lahirnya peradaban manusia dan epos Mahabharata dan Ramayana. Dari pemaparan itu, saya menegaskan, ingin datang ke India untuk merasakan aura spiritual negeri Baratawarsa ini. Penutupnya tentu saja acungan jempol untuk Telkomsel karena memiliki program apresiasi bagi pelanggan yang beragama Hindu.
Ternyata esai yang saya buat lolos seleksi dan masuk 50 besar. Saya lalu ditelepon petugas Telkomsel Jakarta untuk memastikan jadwal wawancara dengan perwakilan PHDI Pusat.
Ternyata jadwal yang sudah saya berikan tidak ditepati. Saya mulai berpikir, Telkomsel tidak konsekuen terhadap programnya. Saya dijadwalkan wawancara Rabu 20 April 2011 pukul 10.00 tetapi baru terealisasikan Sabtu 23 April 2011 bertepatan dengan Hari Raya Saraswati. Saat ditelepon, saya sedang melintas di Jalan Hayam Wuruk. Saya lalu berhenti di depan Kantor Kresna Karya untuk tes wawancara. Pertanyaan yang dilontarkan terkait pemahaman mengenai tirtayatra dan pembinaan umat Hindu. Saya menjawab pertanyaan dengan lancar dan apa adanya.

Ketegangan melanda saat saya buka kembali website Telkomsel. Pengumumam pemenang akan dilakukan 30 April 2011. Tiap malam saya cek situs tersebut. Tetapi, tidak ada pengumuman. Hati kecil saya yakin, saya pasti menang. Akhirnya, Selasa 3 Mei 2011 saya cek lagi, ternyata sudah ada pengumuman. Saya berada di nomor urut 8 dari 20 pemenang. Saya peluk istri dan anak seraya menyampaikan terima kasih atas dukungan mereka. Saya juga bersembahyang untuk menyampaikan terima kasih kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa karena perkenan Beliau, saya bisa ikut tirtayatra ke Thailand, Nepal, dan India. Mimpi untuk berkunjung ke negerinya Mahatma Gandi pun terwujud.
Saat pelepasan pemenang yang dirangkaikan dengan Dharma Santi Nyepi Telkomsel, saya didaulat menyampaikan testimoni. Saya pun mengungkapkan semua pengalaman tersebut seraya mengakui ini kali ketiga saya ikut kuis tirtayatra dan baru kali ini saya beruntung.
Pemenang kuis tirtayatra ada 20 orang. 16 dari Bali, sisanya dari Depok (Jabodetabek), Palangkaraya (Kalteng), Mataram (NTB), dan Nabire (Papua). Sebelum hari keberangkatan, peserta dari Bali dikumpulkan di GraPari Telkomsel.

Kami mendapat pembekalan dari PT Sari Amrtha Tunggal (SAT) yang menjadi pemandu tirtayatra. Pimpinan SAT Tour I Putu Ane Edi menyampaikan hal-hal yang perlu disiapkan. Jadwal semua kegiatan pun diberikan kepada peserta. Ane Edi yang kerap tampil sebagai pen-dharma wacana di televisi ini memberi gambaran apa yang akan dilakukan selama tirtayatra di tiga negara ini. Ia juga siap untuk diajak berdialog mengenai masalah agama. –wah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s