Sadarkan Masyarakat tentang Sampah Plastik. Perlu Sinergi Pemerintah dan Desa Pekraman

Posted: December 16, 2010 in Social
Tags: , ,

Dr. Made Mangku

Produksi sampah plastik diperkirakan akan terus naik. Kalau ini dibiarkan, lingkungan akan makin tercemar karena sampah plastik sangat sulit terurai. “Sampah plastik kualitas tinggi seperti fiberglass memerlukan waktu penguraian hingga 500 tahun. Kalau tas plastik biasa perlu waktu 100 tahunan sedangkan kemasan sachet perlu 150 tahun. Lamanya waktu penguraian ini akan terus bertambah jika sampah plastik terus dibiarkan,” ujar Dr. Made Mangku, seorang pengamat lingkungan.

Adanya pembakaran sampah plastik sebagai solusi untuk mengurangi beban tanah, ternyata tidak cukup efektif. Pembakaran sampah plastik malah akan menimbulkan kerusakan lapisan ozon bahkan mengganggu kesehatan manusia jika asap dari pembakaran terhirup. Asap pembakaran merupakan karbondioksida  yang dihasilkan dari unsur kimia. Karbondioksida ini bisa membahayakan lingkungan.

Dr. Mangku memberikan dua solusi terkait upaya pengurangan sampah plastik. “Pertama perlu ada kesadaran dari pabrik pembuat plastik agar menekan kuantitas produksi plastik. Sebagai gantinya, mereka harus membuat produksi yang ramah lingkungan. Kedua, kesadaran dari masyarakat untuk tidak sembarangan membuang sampah plastik. Perlu ada kesepahaman bersama antara masyarakat dengan lembaga adat seperti desa pekraman,” tandasnya.

Untuk solusi pertama, ia yakin kalau pabrik terus memproduksi plastik, otomatis masyarakat pun akan terus menggunakan plastik. Harus ada yang meyakinkan pabrik-pabrik pembuat plastik untuk mengurangi produksi plastik. Sebagai gantinya, mereka disarankan membuat produksi yang lebih ramah lingkungan, seperti tas kertas. Artinya kuantitas harus diturunkan sedangkan kualitas dinaikkan. Masalahnya, kesadaran orang untuk memanfaat tas kertas masih kurang. Ada yang masih gengsi kalau keluar dari toko tidak menenteng tas plastik.

Penyadaran ini menurut Dr. Mangku bisa dimulai dari keluarga, sekolah, dan banjar melalui seka teruna atau krama banjar. Di level yang lebih luas, desa pekraman bisa ikut dilibatkan. “Saya punya gambaran, jika desa pekraman dilalui daerah aliran sungai (DAS) perlu ada koordinasi antara satu desa pekraman dengan desa pekraman disebelahnya. Di perbatasan, diberi jaring atau apalah yang bisa menahan sampah. Di perbatasan itu juga disiapkan petugas angkut sampah. Kalau ini dilaksanakan, masing-masing desa pekraman akan punya tanggung jawab. Desa pekraman juga wajib menyosialisasikan pentingnya menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, apalagi membuang ke sungai. Biarkanlah aliran air dari hulu ke hilir lancar tanpa ada gangguan sampah,” tegasnya.

Apa yang disampaikan Dr. Mangku ini mendapat respons positif Ketua Majelis Madya Desa Pekraman (MMDP) Denpasar Drs. I Made Karim. “Ini merupakan usulan yang positif dan perlu didukung. Sebelumnya tentu perlu sosialisasi dulu ke masyarakat agar semua memiliki kesepahaman mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya.

Pria yang juga Bendesa Pekraman Kesiman ini menambahkan, bukan hanya krama desa pekraman saja yang perlu diajak menjaga kebersihan, tetapi krama tamiu yang ada di wilayah masing-masing. Sinergi juga perlu dilakukan dengan pemerintah. –wah

Comments
  1. ayooo
    GoGreen
    Mampir ke blogq juga ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s