Potret Desa Nelayan Kedonganan

Posted: December 16, 2010 in Uncategorized

suasana pantai

Desa Kedonganan berada di wilayah Kuta Selatan, Badung berbatasan dengan desa Kelan dan desa Jimbaran. Kedonganan memiliki pantai yang eksotis yang dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata dan perikanan. Namun, masih ada ketimpangan antara dua sector ini. Apa yang bisa dilakukan untuk menyeimbangakan potensi keduanya?

Wilayah Kedonganan yang berupa daratan dan pantai membuat penduduknya bisa bermata pencaharian sebagai nelayan atau petani. Prospek dari sektor perikanan lebih menjanjikan karena hamparan laut luas menyimpan anugerah yang berlimpah. Garis pantai Kedonganan mencapai 1010 m. “Data jumlah penduduk per Juni 2010, warga Kedonganan terdiri dari 2896 laki-laki dan 2711 perempuan. Dari jumlah totalnya, 40% bergerak di sector perikanan. Ada yang menjadi nelayan tradisional dan ada yang menjadi juragan,” kata Nyoman Rudiarta, Lurah Kedonganan.

Salah satu orang yang banyak bergelut dengan kehidupan nelayan Kedonganan adalah I Nyoman Sudarta. Sejak kecil ia sudah terbiasa untuk mencari ikan, walau hanya di wilayah pantai Kedonganan. “Dulu dan sekarang kondisi beda. Dulu nelayan masih pakai alat tradisional seperti pencar (jarring) dan sampan kecil. Mencari ikan hanya sampai di perairan Uluwatu. Sekarang kondisi sudah berubah, banyak nelayan yang memiliki perahu besar dengan alat tangkap modern. Mereka mencari ikan sampai ke Zone Ekonomi Eksklusif,” kata pria yang menjadi Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) cabang Badung periode 2007-2010 ini.

Sudarta menambahkan, nelayan di Kedonganan memiliki keunikan. Walaupun sudah memiliki peralatan modern, mereka masih mempertahanan peralatan tradisional yang ada. Yang lebih membanggakan, hanya sedikit yang terjun sebagai nelayan langsung. Kebanyakan mereka menjadi juragan atau “manajer” nelayan. Bahkan ada nelayan yang sudah punya mobil mewah dan memiliki anak buah yang berasal dari Pulau Jawa.

Sebagai “manajer”, nelayan ini tinggal menyiapkan kapal berikut bahan bakar. Selanjutnya nelayan-nelayan kecil yang berangkat mencari ikan. Hasil tangkapan diserahkan kepada “manajer” untuk dijual. Mengenai potensi ikan di perairan Kedonganan, Sudarta yang juga Ketua KUD Mina Segara Kedonganan mengatakan posisi perairan Kedonganan sebagai kelanjutan dari Selat Bali sangat menguntungkan.

“Selat Bali merupakan fishing ground (pusat ikan) lemuru, tongkol, dan tuna. Kebiasaan ikan-ikan itu, kalau melihat cahaya lampu, mereka akan berkumpul dan memudahkan nelayan untuk menangkap ikan. Sinar lampu di Bandara Ngurah Rai juga menjadi pemikat ikan-ikan untuk berkumpul,” ujar anggota Komisi C DPRD Badung ini.

Ikan-ikan hasil tangkapan ada yang dijual untuk masyarakat lokal dan untuk memenuhi keperluan kafe-kafe yang ada di sepanjang pantai Kedonganan dan ada yang diekspor. Jika dirata-ratakan, dalam sebulan peraiaran pantai Kedonganan bisa menghasilkan 300 ton ikan.

Dari pantai sepanjang 1010 m, Sudarta mengatakan sudah ada pembagian kawasan yang terdiri dari 750 m untuk pariwisata, tempat upacara, dan fasilitas umum, sisanya dimanfaatkan untuk perikanan. “Sektor perikanan dan pariwisata harus berjalan seimbang. Pariwisata itu sangat rentan sedangkan sektor perikanan lebih stabil. Sebagai contoh, adanya kafe-kafe yang berjumlah 24 di pantai Kedonganan mampu menggerakkan sector perekonomian Kedonganan. Kafe-kafe itu membeli ikan dari nelayan, membeli canang, membeli sembako dari Kedonganan. Perputaran ekonomi akan terjadi sehingga kesejahteraan masyarakat Kedonganan bisa terangkat,” papar Sudarta.

Secara umum, ia melihat kendala-kendala yang dihadapi nelayan sudah bisa teratasi berkat perhatian pemerintah terhadap sektor perikanan. Kesulitan nelayan untuk mendapatkan bahan bakar pun sudah bisa teratasi dengan pendirian SPBN di Kedonganan. Stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan ini akan melayani nelayan Jimbaran, Kedonganan, dan Kelan.

Sementara itu Putu Yunita Oktarini, anggota DPRD Badung yang juga berasal dari Kedonganan menuturkan impiannya membuat Kedonganan menjadi ikon kuliner dan kelautan. “Kedonganan punya potensi besar dalam hal perikanan. Letak geografis dan kultur masyarakat sangat unik sangat menunjang potensi ini. Soal kendala pasti ada, misalnya penataan pantai,” tandasnya.

Ia berharap pantai yang dijadikan pasar ikan harus bersih. Kalau jorok, wisatawan tidak akan mau datang. Selain itu fasilitas untuk pantai sudah bagus dengan adanya kafe dan balawisata.

Runner up Miss Indonesia 2006 ini mengatakan Kedonganan memiliki pantai Barat dan pantai Timur. Pantai Barat untuk ikan air laut sedangkan pantai Timur bisa dikembangkan untuk ikan air payau. Keseimbangan antara pantai Barat dan pantai Timur ini bisa mendukung terwujudkan swasembada di Kedonganan. —wah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s