Dorong Pembentukan Lembaga Kursus Pranikah di Kecamatan

Posted: December 11, 2010 in Social

Kursus pranikah bagi pasangan yang akan menikah merupakan jalan untuk mempersiapkan diri sebelum mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga. Selain kursus pranikah, ada yang mensyaratkan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah. Dengan mengikuti kursus pranikah diharapkan dapat mewujudkan keluarga yang bahagia dan sejahtera.

Kursus biasanya diberikan kepada pasangan yang sudah bertunangan, pasangan yang masih pacaran dan sudah memiliki rencana menikah, dan pasangan yang masih pacaran dan sama sekali belum memiliki rencana menikah. Pasangan yang belum memiliki rencana menikah perlu mengikuti acara ini sehingga jika ternyata kedua pihak memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan ke arah pernikahan, maka setiap pihak tidak akan terbeban berat jika dibandingkan seandainya peserta tersebut telah bertunangan.

Materi kursus pranikah antara lain program kesehatan reproduksi (kespro) tentang upaya menjaga kesehatan ibu saat hamil, melahirkan, pentingnya progam keluarga berencana (KB), manajemen keuangan agar mampu mendiri. Selain itu, materi kurusus bagaimana mendidik anak agar tetap sehat, cerdas dan berkreatif, serta sosialisasi UU No 10/1974 tentang Perkawinan, UU anti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), serta pemahaman fungsi keluarga, seperti fungsi ketahanankeluarga, kesejahteraan, sosial dan ekonomi. Kursus pranikah ini lazim ditemukan di kalangan umat Nasrani.

Di kalangan umat Hindu, kursus pranikah belum melembaga, sepeti diungkapkan Drs. I Ketut Wiana, M.Ag. ”Secara tradisional, ada lembaga penhasihat perkawinan. Mereka memberi nasihat terkait pernikahan. Selain itu, dalam acara peminangan secara implisit tersirat pesan-pesan kepada calon penganten. Ini bisa juga dijadikan bekal bagi calon penganten dan orang yang lebih muda,” tegas Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat ini.

Ia menambahkanperlu adanya lembaga yang secara modern mengelola kursus pernikahan. “Kami pernah mendorong adanya lembaga itu di tiap kecamatan. Kegiatan yang sudah dilakukan secara tradisional itu tinggal dikembangkan dengan memberikan materi-materi yang berkiatan dengan kehidupan keluarga. Tenhtu ini harus melibatkan semua elemen dengan metode yang terencana,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Prof. Dr. Made Titib, Ph.D. Anggota Sabha Walaka yang kini menjadi Korwil  XI ini mengatakan secara formal kusrus pranikah di klangan Hindu memang tidak ada. Pendidikan sebelum melangkah ke jenjang pernikahan biasanya dilakukan di rumah. Pembinaan sebelum nikah selama ini lebih banyak diberikan orangtua. Namun, pengetahuan orangtua haruslah tinggi mengenai penataan sebuah keluarga dan orangtua harus memberikan contoh terbaik dari pengalaman pernikahannya.

“Yang ada adalah lembaga penasihat perkawinan yang ditangani PHDI. Lembaga ini sering dimanfaatkan pasangan beda agama yang akan menikah termasuk bagaimana proses sudhi wadani,” paparnya. —wah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s